Belajar Fotografi, Passion atau Hanya Ikut-ikutan???

Ayo poto disik, rek!!! Ahahaha kata-kata ini pasti akrab kita ucapkan juga kita dengar kalo lagi di tempat-tempat nongkrong yang instagramable. Ya nggak sih? Anak muda jaman sekarang ada yang kurang kalo nggak ngeksis. Yup. Sekarang ini jamannya media sosial udah jadi kebutuhan primer nggak hanya di kalangan abege, bahkan anak-anak sampai ibu-ibu juga bapak-bapak. Berbagai macam sosmed mulai dari facebook, twitter, instagram, path, dan masih buanyak lagi macemnya udah nangkring aja di smartphone kita.

Adanya sosmed ini secara tak langsung berdampak sangat besar bagi dunia fotografi. Betapa tidak, semua yang lagi pengen ngeksis bin narsis berlomba-lomba menampilkan hasil jepretan yang paling bagus. Tak dapat dipungkiri banyak orang mulai melirik dunia fotografi ini, mulai belajar teknik-teknik fotografi dan sebagainya. Meski banyak pula yang belajar hanya karena trend atau ikut-ikutan dan bukan karena memang passionnya. Melu-melu ae Rek! Ckckck.

13445574_10206710495304183_8617772551506438772_n
NK Syar’i, hasil foto produk Wisnu Priyono

Ngomongin soal passion, ada banyak fotografer yang memang bener-bener passionate banget di dunia fotografi ini. Wisnu Priyono , bapak satu anak yang tinggal di Surabaya ini mengawali kecintaannya pada dunia fotografi sejak berada di bangku kuliah karena aktif di salah satu UKM sebagai humas. Mau tak mau Wisnu makin akrab dengan yang namanya kamera, tapi waktu itu masih menggunakan kamera pocket yang katanya hasilnya lebih banyak amburadulnya daripada bagusnya, huehehe.

Pasca lulus kuliah, Wisnu diterima bekerja di salah satu media massa sebagai wartawan. Namun karena saat itu belum ada pewarta foto khusus akhirnya ia merangkap menjadi wartawan juga fotografer. Dari situ kemampuannya memotret makin terasah karena sering hunting sampai akhirnya ia paham bagaimana menghasilkan foto-foto sesuai kebutuhan jurnalistiknya agar layak tayang di media.

2Nisisie Food, hasil foto produk Wisnu Priyono

Awal mengenal tentang fotografi, ia belajar dua hal tentang objek dan kamera. Untuk objek, ia belajar bagaimana  bisa mengobservasi keadaan sekitar dengan baik sehingga dapat melihat peluang objek yg mungkin biasa bagi kebanyakan orang,  tapi menarik baginya, terlebih dapat “terlukis” indah di kamera. Mungkin ibaratnya seperti foto yang berbicara, jadi tidak hanya gambar bagus tapi tetap ada makna dan cerita di balik foto tersebut.

Untuk kamera, Wisnu belajar bagaimana mengoperasikan dan mengenal kamera yg ia punya.  Kebetulan saat itu kamera yg dia dapat bukan kamera baru, setting auto dan autofokusnya pun sudah nggak berfungsi dengan baik jadi ia benar-benar  menggunakan settingan manual. Ia merasa benar-benar bersyukur karena adanya kamera itu justru melatihnya mengenal apa itu iso diafragma speed dan sebagainya.  Seandainya waktu itu ia dapat kamera terbaru dan terwahid, mungkin ia akan jadi sangat tergantung dengan setingan auto. Namun menurutnya, bukan berarti hanya dengan mengandalkan setingan auto itu nggak baik ya, karena ada kalanya objek yang kita ingingkan itu nggak sesuai saat hanya menggunakan settingan auto jadi harus bener-bener manual setting.

wisnu1

Seperti memotret lampu kendaraan di malam hari agar terlihat menarik dgn bentuk memanjang berwarna merah atau putih harus manual, karena beberapa kali mencoba auto hasilnya kurang sesuai dengan yang ia inginkan. Sampai saat ini ia menjalankan fotografi karena hobi jadi ya seru-seru aja, justru makin kesini makin merasa buanyak banget yang harus dipelajari tentang fotografi karena ilmu tentang fotografi begitu luas.

wisnu2Yoi Ki Sushi, hasil foto produk Wisnu Priyono

Sekarang ia lebih konsen ke food fotografi. Awalnya cuma pengen moto produk aja. Kemudian setelah bergabung dengan komunitas EHI (kalau ingin tau tentang apa itu EHI bisa klik ke sini EHI ) melihat temen-temen ternyata banyak yang punya bisnis tapi rata-rata foto produknya masih biasa saja dan belum ada sentuhan fotografinya karena sayang sekali kualitas produk mereka cukup bagus namun tidak dibarengi kualitas foto yang bagus sebagai media promosi. Dari situlah muncul keinginan untuk membantu mereka. Tapi waktu itu Wisnu sempat bingung juga mau bantuin yang gimana karena ia sendiri belum pernah sama sekali foto produk. Ternyata setelah ia coba hasilnya cukup bagus dan memuaskan.

4

Menurut Wisnu, food photography itu ternyata unik dan penuh tantangan dan buat dia ini merupakan pengalaman baru jadi harus banyak belajar lagi.  Sepemahaman ia, basic dari food photography ada pada konsep dan styling yang sekarang sedang ia asah dan pelajari. Karena selama ini ia terbiasa memotret dengan mengandalkan konsep yang sifatnya momentum, spontanitas, dan candid. Sedangkan food photography ini menurutnya kita yang membuat konsep untuk menciptakan moment. Dan itu nggak gampang, salah satu kuncinya ya dengan practice more and more. Dan satu lagi, kebanyakan (nggak semua ya) para profesional food photographer itu ternyata berasal dari dua hal, pecinta kuliner dan orang yang hobi masak.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Selai Move On, hasil foto produk Wisnu Priyono

Wisnu juga menceritakan, ia pernah ngobrol dengan salah satu food photographer yang berasal dari Kalimantan Selatan. Hasil jepretannya sangat bagus, sudut pengambilan gambarnya juga baik, pencahayaanya d’best, penataan obyek foto dengan propsnya juga harmonis banget. Setelah ia tanya ternyata beliau adalah ibu rumah tangga yang hobi memasak dan baru satu tahun belakangan ini mengenal kamera dslr. Hebat juga baru satu tahun aja hasilnya udah profesional, apalagi kalo udah bertahun-tahun.

Kuncinya dia mencintai apa yang dia lakukan. Seperti pesan seorang coach tentang passion, passion itu datangnya dari Allah, jadi apabila kita sudah mengenal dan mengejar passion itu, sama saja kita mengejar akhirat, bekerja dengan penuh cinta untuk Allah. Kalau akhirat yg dikejar, dunia pasti mengikuti dengan sendirinya, jadi tidak melulu soal mengejar uang.

5 Comments

  1. Sekarang gampang buat foto2, gak harus pake kamera canggih, pake hp jg bisa. Tapi tetep hasilny beda antara yg passionate ngerjainnya, dengan yg asal jepret doang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*